Daftar Blog Saya

Apa yang anda cari

Pesan Tiket Pesawat

Tampilkan postingan dengan label Wisata ke Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata ke Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Ertiga Pecahkan Rekor Dunia


Konvoi Ertiga Pecahkan Rekor Dunia

Dadan Kuswaraharja - detikOto
Sabtu, 24/11/2012 17:00 WIB















Jakarta - Konvoi Suzuki Ertiga di Jakarta akhirnya bisa memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia. Bahkan konvoi ini bisa membukukan rekor dunia dari Indonesia pula.

"Acara Pesta Ertiga di Jakarta menurut museum rekor MURI, memecahkan rekor dunia, dengan konvoi 2.379 kendaraan untuk kendaraan sejenis dalam kondisi hujan," ujar 4W Marketing & Dealer Network Development Director PT Suzuki Indomobil Sales Endro Nugroho kepada detikOto di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

"Saya bangga dan ingin mempersembahkan ini untuk para pemakai Ertiga, yang telah berpartisipasi dalam memecahkan rekor dunia maupun pencapaian keiritan bahan bakar yang luar biasa," tambah Endro.

Endro tidak memungkiri konvoi kali ini menimbulkan kemacetan di Jakarta. Atas nama Suzuki, Endro pun meminta maaf kepada warga Jakarta yang merasa tidak nyaman dengan konvoi Ertiga.

"Kami mohon maaf kalau misalnya menimbulkan kemacetan di beberapa titik," ujarnya.

Sebelum konvoi dimulai lanjutnya, Suzuki sudah mengirim sms blast dan BlackBerry Messenger terkait kemacetan yang terjadi gara-gara konvoi.

"Sangat sulit bagi kami untuk tidak menimbulkan kemacetan. Mudahan jadi atraksi menarik kok ini ada mobil yang sama berjejer rame-rame ke satu tempat," ujarnya.



Piagam rekor MURI pun langsung diserahkan oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, kepada PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS), di Taman Mini Indonesia, Jakarta Timur.


Konvoi Ertiga menurutnya jadi sarana untuk berliburan bersama keluarga.

"Apalagi kondisi kota asyik juga untuk jalan-jalan. Dan ini ajang silaturahmi, acara bagus, dan kita harus menjaga ketertiban di jalan," ujarnya lagi.

Pengguna lain Anto datang dari Bogor juga sengaja datang untuk mengikuti konvoi.

"Dari pada di rumah, karena ini momen besar untuk Ertiga," ujarnya.

Syahrul dan Anto merupakan sebagian dari pemilik 457 mobil Ertiga yang berangkat dari Carrefour MT Haryono.

"Kita seneng konvoi ramai-ramai, dan kita ingin ikut gathering, dan ingin berpartisipasi dalam pecahkan rekor MURI," ujar Izal.

 "SELAMAT UNTUK SUZUKI ERTIGA ATAS REKOR MURI

 YANG DIRAIHNYA"


SUZUKI ERTIGA FOR YOUR EXCITEMENT

Disalin dari : DetikOto
Cahpordjo76

Sabtu, 12 Mei 2012

Sejarah Pesawat Sukhoi

Pavel Sukhoi, si cerdas yang kagum pesawat






Minggu, 13 Mei 2012 11:01:10

Sukhoi, boleh jadi terpukul oleh peristiwa jatuhnya pesawat Superjet 100 di Gunung Salak. Tetapi, industri penerbangan Rusia itu akan terus berjuang memantapkan diri di antara nama-nama besar seperti Boeing dan Airbus.

Sukhoi sebagai industri pesawat bermula dari kekaguman bocah Pavel Sukhoi terhadap kemampuan manusia yang bisa terbang. "Saya berjalan dengan teman sepulang dari gimnasium. Tiba-tiba ada pesawat di atas kita. Itu sungguh luar biasa! Bukan burung, tetapi manusia terbang di atas kita," kata Pavel Sukhoi pada masa-masa sekolah kurun 1905-1914.

Nama lengkapnya Pavel Osipovich Sukhoi. Lahir pada 22 Juli 1895, dia anak seorang guru di Vitebsk, dulu masuk wilayah Uni Soviet, sekarang bagian Belarusia.

Bermula dari menonton pesawat terbang itulah muncul ketertarikan Sukhoi kecil pada pesawat. Selepas sekolah menengah, Sukhoi masuk fakultas fisika dan matematika di Moscow Technical School, sekarang Bauman Moscow State Technical University (BMSTU).

Selama Perang Dunia II, dia menjadi tentara tetapi mundur karena alasan kesehatan. Kembali ke kampus, dia lulus 1925.

Bakat dan kecerdasannya sangat menonjol hingga diketahui oleh Andrey Tupolev, pioner industri penerbangan Rusia. Skripsinya soal mesin pesawat di bawah bimbingan langsung Tupolev. Kelar kuliah, Sukhoi remaja kerja di TsAGI (The Central Aero Hydrodynamic Institute), saat itu paling terdepan dalam pengembangan pesawat di Rusia. Tugas pertamanya adalah gabung dalam kelompok yang mengembangkan pesawat pembom TB-1 and TB-3.

Selama tahun 1930-an dia terus bekerja bersama Tupolev mengembangkan pesawat dengan daya jelajah tinggi seperti ANT-25 dan pesawat pembom ANT-37 serta BB-1.

Titik baliknya dimulai pada 29 Juli 1939 ketika diserahi membuat biro desain dan konstruksi pesawat sendiri. Tugas pertamanya adalah pengembangan pesawat BB-1 yang kemudian menjadi Su-2, model pertama yang kemudian akan diikuti oleh puluhan model pesawat lain hasil biro desain Sukhoi.

Lebih dari 50 konstruksi dan desain pesawat dihasilkan Pavel Sukhoi. Termasuk di antaranya jet tempur Su-24, the Su-25 dan Su-27 Flanker. Sebanyak 2.000 jet tempur Sukhoi dikirim ke berbagai negara termasuk digunakan pula oleh TNI AU.

Sukhoi Superjet 100 adalah pesawat Sukhoi pertama untuk penerbangan sipil. Pesawat ini diperkenalkan Agustus 2009 pada pameran penerbangan di Moskow. Sudah banyak pemesan dari berbagai negara termasuk Indonesia.

Atas berbagai jasanya, Sukhoi dianugerahi gelar pahlawan. Dia meninggal pada 15 September 1975. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Moskow. Selain tentu, terus diabadikan pada nama pesawat-pesawat produksi biro desain dan konstruksinya.
[war]
MERDEKA.COM BERKABUNG : UCAPKAN BELA SUNGKAWA UNTUK DIBAWA KE GUNUNG SALAK. 

Dicopy dari : merdeka.com

Senin, 12 Maret 2012

Duren Kaligesing Lan Sejatining Hurip



11th January 2012 | By: Masdodi
Kita musti banyak belajar dari cara hidup masyarakat Kaligesing di musim durian.
Ketika musim durian tiba, hampir semua sudut kota Purworejo penuh dengan pedagang durian. Pemandangan ini pada prinsipnya sama dengan pemandangan daerah lain ketika musim buah-buahan tiba. Sebut saja misalnya ketika musim mangga tiba, maka daerah sepanjang Indramayu di Jawa Barat atau Probolinggo di Jawa Timur penuh dengan pedagang mangga musiman. Demikian juga di Purworejo, saat musim durian tiba, pedagang durian musiman bagaikan laron di musim hujan. Di pasar-pasar, di emper toko, di pinggir jalan, bahkan di halaman masjid, penuh dengan durian. Saat musim durian tiba, stok durian di Purworejo berlebih, dampaknya harga durian terjun bebas hingga Rp 3000 per buah.


Ada beberapa wilayah di Purworejo yang merupakan sentra perkebunan durian, seperti Loano, Gebang dan Bruno, tetapi penghasil durian terbesar di Purworejo adalah wilayah Kecamatan Kaligesing. Kaligesing adalah nama salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kecamatan dengan luas 69 km² ini memiliki jumlah penduduk sekitar 35.562 jiwa menurut data BPS tahun 2000. Kecamatan yang berada di perbukitan ini memiliki 21 desa atau kelurahan.
Kaligesing memiliki banyak keunikan. Ia bahkan lebih terkenal bila dibandingkan kecamatan lain di Purworejo. Nama Kaligesing menasional setidaknya karena beberapa hal seperti, tempat kelahiran Pahlawan Nasional WR Supratman, Kambing Ettawa, Goa Seplawan , Tari Dolalak, dan Duren Kaligesing.
Masyarakat di sekitar Purworejo sudah mafhum dengan “kehebatan” durian Kaligesing. Dulu, ketika musim liburan semester, teman saya yang kebetulan kuliah di UGM selalu main ke Kaligesing berburu durian. Pada musim durian, kota Purworejo menjadi “hidup”. Pecinta durian dari Wonosobo, Magelang, Kebumen, Jogjakarta berbondong-bondong ke Kaligesing untuk menikmati durian yang memang punya rasa khas. Bahkan, ada teman saya dari Jakarta, seorang lawyer yang rela ke Purworejo hanya untuk menyantap durian Kaligesing.
Mengapa durian Kaligesing punya daya “magis” sehingga banyak orang merindukannya? Iya, karena durian ini berbeda rasa dengan durian lain, meski sama-sama dari Purworejo. Kualitas rasa durian Kaligesing terjaga sejak zaman dulu hingga sekarang. Tak heran kalau banyak orang yang bilang ,”jangan bilang pecinta durian kalau belum makan durian Kaligesing”.
Rahasia Di Balik Rasa
Keistimewaan durian Kaligesing ada pada rasanya. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Yang jelas manis, legit, nyamleng, dan tidak bikin mual. Jika tidak ingat kolesterol, maka orang akan makan durian Kaligesing sepuasnya dan sekenyangnya sampai mblenger .
Keistimewaan ini bukan tanpa usaha. Awal Januari 2012, kebetulan ke Purworejo dan bertemu dengan teman saya yang asal usulnya dari Kaligesing. Teman saya ini sekarang tinggal di Jakarta, orang tua di Gebang. Ia memiliki silsilah dari Kaligesing. Setiap kali musim durian, keluarga yang di Gebang selalu dikirimi durian. Saya penasaran dengan kehebatan durian Kaligesing, lalu saya banyak tanya terhadap teman saya ini. Ia lantas bercerita.
Menurutnya, durian Kaligesing berbeda dengan durian lain karena buahnya masak dari pohon, tidak dipetik sebelum jatuh. Durian Kaligesing tidak diimbu sebagaimana durian-durian lain. Durian Kaligesing matang bukan karena disimpan, tetapi matang secara alami.
Masyarakat Kaligesing, kata teman saya, punya tradisi yang dipertahankan sejak dulu sampai hari ini untuk menjaga kualitas duriannya. Setiap kali musim durian, masyarakat se-Kaligesing sudah paham dengan aturan tak tertulis, bahwa siapapun dilarang memetik durian. Masyarakat sepakat durian sengaja dibiarkan jatuh dengan sendirinya. Masing-masing orang yang memiliki pohon durian wajib menjaga duriannya, baik siang atau malam hari. Setiap orang yang punya pohon durian wajib ronda menjaga duriannya.
Jika kebetulan ada orang yang melihat durian tetangga jatuh, maka orang itu wajib melaporkan durian itu kepada pemiliknya. Ia dilarang menyembunyikan apalagi memilikinya. Jika melanggar, ndilalahnya ada saja sial yang dialaminya. Atau bisa jadi, tetangga yang lain ramai-ramai mencemoohnya.
Jika ada orang yang memaksakan diri memanen duriannya dengan cara memetiknya, maka orang itu akan terkucil dengan sendirinya. Jika ada orang yang menyembunyikan durian tetangga yang tidak diketahui pemiliknya, orang itu lama kelamaan akan mengakui, bahwa ia telah nyolong durian tetangga. Maka, di Kaligesing tidak ada pedagang yang membeli durian yang masih di atas, apalagi dengan sistem ijon, sebagaimana yang dilarang syariat Islam.
Tradisi ini terpelihara sejak ratusan tahun yang lalu, hingga kini. Hebatnya, masyarakat Kaligesing seolah satu suara, koor dan sepakat mempertahankan tradisi yang luar biasa ini. Maka, tidak heran kalau Kaligesing adem ayem dan aman tenteram, karena setiap orang memiliki kesadaran yang tinggi. Setiap orang tahu betul hak dan kewajibannya dan setiap orang tahu sanksi yang bakal diterimanya jika melanggar aturan itu.
Hikmah yang Terkandung
Berkaca dari pola hidup masyarakat Kaligesing dalam hal menjaga cita rasa duriannya, maka sejatinya orang hidup di mana pun, sejatining hurip, setiap orang harus bisa menahan diri, harus bisa menempatkan diri, dan harus bisa menjaga diri. Masyarakat Kaligesing bisa menahan diri untuk tidak terburu-buru memanen durian. Masyarakat Kaligesing bisa menempatkan diri untuk tidak menyerobot durian tetangga yang jatuh. Masyarakat Kaligesing bisa menjaga diri untuk tetap mempertahankan ciri khas durian “miliknya”. Masyarakat Kaligesing sepakat “berpuasa “ untuk memetik hasil yang maksimal. Dan, hasil maksimal itu adalah sebagaimana yang saya dan Anda semua rasakan, “Duren Kaligesing memang Beda”
Prestasi dan perjuangan masyarakat Kaligesing seharusnya mendapatkan perhatian dan apresiasi dari pemerintah daerah. Setidaknya pemerintah bisa membantu mengampanyekan potensi ini hingga ke luar daerah, jika perlu ke tingkat nasional. Lebih jauh pemerintah daerah harus bisa menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa durian Kaligesing memiliki keunikan tersendiri, sebelum diklaim oleh daerah lain atau oleh Malaysia. Itu saja. Sri Widodo Soetardjowijono.

Dikutip dari : Blogger Purworejo Community

Minggu, 25 Desember 2011

BABAD NAGARI PURWOREJO

 




Purworejo atau yang dikenal dahulu sebagai Bagelen berdiri sejak 5 Oktober 901 Masehi. Bagelen dahulu merupakan mancanegara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keduanya saling berkaitan dalam sejarah Babad Dipanegara lan babad Nagari Purworejo, Babad Tanah Jawa dan Kitab Negara Kertagama

SEJARAH PERTAMA
 
Sejarah berdirinya Purworejo, berdasarkan adanya Prasasti “ Kayu Ara Hiwang” atau dikenal sebagai Parasasti “Boro Tengah” Yaitu prasasti tentang peresmian Tanah Perdikan (sima) , Kayu Ara Hiwang yang ditemukan di bawah pohon / tanaman Kayu Sono di dukuh Boro Tengah, tepi sungai Bogowonto atau sungai Watukura. , sekarang masuk wilayah kecamatan Banyuurip.

Prasasti batu Andesit yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna sebanyak 21 baris ini sejak tahun 1890 telah dipindahkan dan disimpan di Museum Nasional Jakarta Jl Merdeka Barat , dengan inventaris No 78. Prasasti Kayu Ara Hiwang menyebutkan tahun Saka 823, bulan Asuji, hari kelima bulan Paro Petang, Vurukung Senin (wuku) Margasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi. Saat itu Raka dari Vanua Poh, Dyah Sala (Mala), putra dari Sang Ratu Bajra yang tinggal di Parivutan, telah menandai Desa Kayu Ara Hiwang yang masuk wilayah Vatu Tihang, menjadi tanah perdikan. Daerah tersebut dibebaskan dari segala pajak, kesemuanya itu untuk memelihara tempat suci Parahyangan. Selain itu , pangeran dari Parivutan mensucikan kejelekan.

Dalam Parasasti tersebut diungkapkan bahwa pembebasan Kayu Ara Hiwang dari kewajiban membayar pajak dan menjadi tanah perdikan , meliputi segala yang dimiliki desa , meliputi : katika, guha, katagan, gaga. Juga disebutkan , Rakaryan dari Vatu Tihang., Pu Sanggrama Surandhara, penduduk Gulak yang masuk wilayah Mahmili menerima pakaian ganja haji patra sisi satu set, perak satu kati dan prasada voring sebanyak satu swarna. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan para pejabat dari berbagai tempat antara lain dari Paranggang, Padamuan, Mantyasih, Medang, Pupur, Taji, Watu Tihang Kasugihan, Pakambingan, Varu Ranu, Lampuran, Watu Hyang, Alas Galu, Pakalangkyang, Pagar Vsi, Sru Ayun, Sumumilak, dan Kalungan. Para Pejabat yang hadir tersebut menerima Pasek-pasek berupa pakaian berwarna dan emas seberat satu swarga, satu masa enam masa dan dua belas masa, atau perak satu kati atau satu karsa dua masa.
Sedangkan sampai detik ini tempat-tempat yang disebutkan dalam parasasti tersebut diantara masih ada dan masih bisa dikenali, antara lain Mentyasih = Magelang, Vatu Tihang = S(e)olo Tiang (daerah Loano), Taji = Prambanan , Kalughan = Kalongan Loano dan sebagainya..

Dilihat dari tahun dikeluarkannya prasasti tersebut , dipastikan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa kekuasaan, Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, seorang maharaja terbesar pada masa Mataram Kuno. Dan mempunyai wilayah dan mempunyai wilayah kekuasaan dari Jawa Tengah, Jawa Timur sampai ke Bali. Dyah Balitung dikenal sebagai Pangeran yang memiliki wilayah Palungguhan di lembah sungai Watukura, sungai besar yang mengalir dari Gunung Sumbing sampai kelautan Hindia , pantai selatan Jawa Tengah.

Menurut Van Der Meulen SJ, pendiri Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, wilayah Bagelen berbentuk segitiga, tempat yang sekarang dikenal bernama Ledok, merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Basisnya Pantai Selatan, puncaknya Gurung perahu (Dieng) Sungai yang terutama adalah Bogowonto atau Watukura.. Van der Muelen bahkan berpendapat, apa yang dinamakan Holing dalam Tiongkok Kuno seharusnya dibaca Halin, yakni singkatan dari Baghahalin (bagelen), kerajaan yang berlokasi di lembah sungai Bogowonto atau sungai Watukura. Bagelen tersebut sama dengan Pagelen yang disebut dalam Babad Tanah Jawi, kerajaan yang semula diperintah Khulun. Pendapat Van der Meulen tersebut yang menggali isi Kitab Cerita Parahyangan dan Babad Tanah Jawi tersebut, menurut Dr N. Daljoeni merupakan sumbangan yang telah mengobori pronto sejarah yang gelap abad ke-5 sampai dengan abad ke-7.

Sekalipun dalam prassti Kayu Ara Hiwang secara implisit disebutkan nama Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, namun dalam prasasti tersebut disebutkan, nama “Sang Ratu Bajra”. Tokoh ini diduga keras adalah adalah, Rakryan Mahamantri / Maha Patih Hino, Sri Daksottama Bahunbajra Pratipaksaya atau Daksa orang kedua setelah Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura. Jadi sebutan “Sang Ratu “ layak diberikan kepadanya karena dalam sejarah perkembangan berikutnya, Daksa adik ipar Balitung naik tahta menjadi raja menggantikan Balitung. Di sisi lain dalam prasasti “Sipater” parasasti batu yang ditemukan di wuwungan (bagaian dalam atap yg tertinggi) Masjid Jenar Kidul tahun 1981 tidak jauh dari lokasi Boro Tengah mengungkapkan pembuatan sebuah “dawuhan” atau tanggul / dam untuk mengairi persawahan. Dalam prasasti tersebut disebutkan nama seorang Samgat dari Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah (anak wanua) Pariwutan dalam wilayah (watek) Ghaluh. Selain itu dalam prasasti “ Tulanana’” tahun 823 Saka. Dyah Balitung Watukura juga disebut sebagai Rakai Galuh, penguasa daerah Galuh. Dengan demikian pendapat Profesor Purbatjaraka, bahwa Dyah Balitung Watukura adalah seorang Pangeran berasal dari Kedu Selatan atau Bagelen adalah benar.
Menurut Prof. Purbatjaraka, nama “Pagelen” atau “Bagelen” itu berasal dari kata “Pagalihan” yaitu daerah yang masuk wilayah Galuh.. Kata “Galih” menurut menurut pendapatnya adalah bentuk karama dari kata Galuh. Contohnya kata Pangguh = Panggih, Lungguh=Linggih, Rungkuh=Ringkih. Dengan demikian , Pegaluhan, Pegalihan, Pagelen, dan Bagelen memang merupakan wilayah kekuasaan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura yang ditandai dengan sebuah aliran Sungai Besar, Sungai Watukura yang kemudian dikenal dengan nama sungai Bogowonto, karena dikedua tepinya banyak Begawan berada. Dalam sejarah berikutnya , daerah Watukura masih dikenang. Ini terbukti dalam naskah Negara Kertagama , Raja Hayam Wuruk masih menyebut nama tersebut. Sedangkan dalam masa kerajaan Demak, Bagelen merupakan suatu propinsi yang dipimpin oleh seorang Tumenggung. Para Kenthol Bagelen memegang peranan penting dalam pembentukan Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya yang kemudian bergelar Sebagai Panembahan Senapati telah mengingat persaudaran dengan para Kenthol Bagelen. Para Kenthol itu pula merupakan pasukan andalan dalam menumpas pemberontaka-pemberontakan maupun dalam operasi operasi militer, termasuk dalam pertempuran melawan VOC di Batavia.
Kesatuan dan kesetiaan orang-orang Bagelen mulai digoyah, tatkala di Kerajaan Mataram timbul pertikaian. Berdasarkan Perjanjian Giyanti , 13 Februari 1755, atas prakarsa VOC Belanda, wilayah Bagelen (Purworejo) dibagi dalam dua bagian sebagian masuk wilayah Surakarta dan sebagian lagi masuk wilayah Yogyakarta. Namun pembagian tersebut tidak jelas batas-batasnya.”Tumpangpuruk, campur baur seperti rujak” Ungkap Laksono salah seorang peneliti. Pemecah belahan ini makin terasa tatkala abad ke-19 pecah perang Diponegoro.

Di Kutip dari Mas Purwo
http://www.purworejokedu.blogspot.com

Kamis, 03 November 2011

BEAUTIFUL ''Jurassic Park'' Komodo NASA

Foto 'Jurassic Park' Komodo NASA

Berkunjung ke Pulau Komodo bagai memasuki Jurassic Park

VIVAnews -- Foto bidikan Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA ini sangat cantik: berlatar laut berwarna biru tua, pulau-pulau besar yang berwarna zamrud, dikelilingi pulau-pulau kecil yang bersinar bak permata biru.


Itu adalah gambar Tamana Nasional Komodo yang diambil dari luar angkasa melalui satelit Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER).




NASA juga memberi keterangan pada tiga pulau besar, yakni Pulau Komodo, Pulau Pandar, dan Pulau Rinca. "Didirikan pada 1980, Taman Nasional Komodo terdiri dari tiga pulau besar dan pulau-pulau kecil di sekitarnya," demikian pengantar yang diberikan NASA.


Meski awalnya bertujuan melindungi Komodo, 'dinosaurus terakhir di muka Bumi', taman nasional juga melindungi ekosistem darat dan laut di sana. Pada 1986, UNESCO mengakuinya sebagai warisan dunia (world heritage).






Satelit ASTER, jelas NASA, mengambil gambar taman nasional itu pada 20 Juli 2000. Gambar NASA mendekati warna aslinya. Biru menunjukkan air lait, abu-abu mewakili tanah kosong, dan hijau adalah penanda vegetasi.


Masih menurut NASA, Komodo atau Varanus komodoensis adalah kadal terbesar di dunia. Beratnya rata-rata 70 kilogram. Dengan penglihatan tajam, gigi setajam pisau, liur beracun, dan kemampuan berburu luar biasa. Komodo bisa bergerak dengan kecepatan 20 kilometer per jam.


Foto kedua bidikan NASA -- dengan latar biru tua dan pulau berwarna kecoklatan -- menunjukkan tiga Pulau yakni Sumbawa, Komodo, dan Sangeang yang diambil pada September 1995.







Lebih dekat, lebih indah


Mendapat dua pengakuan dari UNESCO -- sebagai warisan dunia sekaligus cagar alam dan manusia, baru sedikit warga Indonesia yang berkunjung ke sana. Baru belakangan ini warga Indonesia antusias peduli dan membicarakan Komodo: soal kampanye New7Wonders, juga soal kontroversinya.


VIVAnews baru-baru ini berkesempatan mengunjungi habitat asli Komodo. Dari atas pesawat yang terbang tak terlalu tinggi, keindahannya taman nasional sudah memukau -- hijaunya pepohonan, laut yang biru, pulau-pulau kecil dikelilingi nuansa gradasi biru.


Namun, kondisi Bandara Labuan Bajo kontras dengan segala keindahan itu. Bandara kecil, dengan fasilitas seadanya. Pengelolaan pariwisata di wilayah itu juga tanggung, akibatnya wisatawan yang berkunjung harus merogoh kocek dalam untuk membayar transportasi, juga menyewa kapal. Tak heran di sepanjang perjalanan laut, lebih banyak terlihat turis asing yang menikmati keindahan alam di sekitar taman nasional.


Memasuki taman nasional, belum tentu langsung bertemu dengan Komodo. Saat itu, binatang purba itu baru ditemui di kedalaman 200 meter dari pintu masuk taman nasional.


Kepala Balai Taman Nasional Komodo Sustyo Iriyono mengakui, sampai saat ini lebih banyak turis asing yang ke sana daripada turis domstik.


Sustyo menambahkan, turis berdatangan ke sekitar taman nasional untuk melakukan dua hal: menyelam dan tracking. Di sekitar Pulau Komodo ada 40 spot diving yang istimewa. Ada gua laut, bukit laut, juga aliran air yang deras.


Karena Komodo adalah top predator, karnivora, pengunjung didampingi penjaga atau ranger. "Karena ini wildlife (alam liar), bukan taman safari atau kebun binatang," kata Sustyo, membantah anggapan mengunjungi taman nasional berbahaya.


Di situ lah indahnya berwisata ke habitat asli Komodo. Ada sensasi petualangannya. "Orang asing tak pernah mempermasalahkan, mereka selalu puas. Hanya, yang masalah justru orang Indonesia, yang tidak bisa membedakan taman safari dan taman nasional."


Sensasi itulah yang membuat Komodo dijuluki 'real Jurassic Park'.


http://nasional.vivanews.com/news/re...k--komodo-nasa


COPY: MAPRAS

Minggu, 14 Agustus 2011

The Origin of Lampung -Indonesia


Wisata Lampung Barat

Lampung Barat , The Origin of Lampung
Secara geografis Kabupaten Lampung Barat terletak pada koordinat 4º47’16” – 5º56’42” Lintang Selatan dan 103º35’08” – 104º33’51” Bujur Timur, memiliki Batas Wilayah :
Batas Utara : Provinsi Bengkulu
Batas Selatan : Samudra Hindia
Batas Barat : Samudra Hindia
Batas Timur : Lampung Utara, Lampung Tengah
Luas Wilayah Lampung Barat 4.950 km persegi atau 13,99 % dari luas wilayah Provinsi Lampung, 57 % dari luas wilayah tersebut berupa hutan kawasan dan 43 % sisanya merupakan lahan yang dapat dihuni yang terbagi dalam 14 kecamatan dan 172 pekon.
Penduduk Lampung Barat berjumlah 365.999jiwa, sebagian besar (71,55 %) hidup dan tinggal di pedesaan. Pada umumnya mereka mengandalkan pertanian dan sebagai mata pencahariannya.
Pesona Wisata Lampung Barat
Dengan dikelilingi pegunungan Bukit Barisan Selatan, Kabupaten Lampung Barat menawarkan cuaca dan udara yang sejuk. Didukung juga kekayaan ekosistem lembah dan pantai serta kehidupan kemasyarakatannya, Lampung Barat memberi banyak pilihan pada pengunjung untuk menikmati perjalanan.Keragaman objek dan daya tarik wisata yang didominasi alam, diperkaya dengan khasanah seni budaya dan kehidupan kemasyarakatan, menjanjikan beragam kombinasi paket atraksi wisata untuk dieksplorasi. Atraksi utama yang siap dijelajahi adalah :
  1. Wisata Budaya dan Sejarah
Adat Budaya Lampung Barat sangatlah khas, mengingat Lampung Barat merupakan asal usul Lampung atau dikenal dengan The Origin of Lampung.
Di Lampung Barat terdapat Upacara Adat yang sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Lampung Barat. Upacara Adat tersebut dilakukan pada saat Menyambut Tamu Agung, Pengangkatan Raja, Pernikahan. Upacara Adat yang dilakukan diantaranya seperti Nyambai Agung, Alam Gemisikh, Upacara adat Pernikahan dan Upacara Pengangkatan Raja.
Ø Situs Purbakala
Peninggalan kuno yang terletak di pekon Purawiwitan, 60 km dari Liwa ini berupa komplek Batu Menhir yang tersusun rapi di duga merupakan empat pertemuan & pemujaan leluhur pada jaman purbakala.
Selain itu juga terdapat situs prasejarah Batu Brak, situs prasejarah Batu Jagur, situs Batu Temang Purajaya, ada juga Air Terjun Kubu Batu, Air Terjun Umbul Batu, Air Terjun Sepapa Kanan, Air Terjun Sepapa Kiri.
Ø Makam Gajah Mada
Makam yang terletak di Pugung Tampak dipercaya merupakan Makam Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada. Konon dahulu kala Kapal yang ditumpangi Patih Gajah Mada tenggelam di perairan Pugung, setelah tiba di Pugung Patih Gajah Mada jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di Pekon Pugung.
Ø Rumah Tradisioanal di Kenali
rumah-adat-lampung-barat
Di desa Sukadana Kenali terdapat Rumah Tradisional asli Lampung Barat yang sampai saat ini masih terjaga.
Ø Event Budaya
Seperti Pesta Sekura yang diadakan setiap hari Lebaran dan Festival Teluk Stabas yang di adakan setiap bulan July, kegiatan pada Festival Teluk Stabas meliputi : Arung Jeram, Jelajah Alam, Kebut Wisata Liwa, Layang-layang, Atraksi Damar, Volley Pantai, Kebut Gunung Pesagi, Pacu Kambing, Muayak, Lomba tari Kreasi, Lomba Lagu Daerah, Lomba Muli-Mekhanai.
Ø Desa Wisata Hujung
Suasan alam pedesaan yang begitu menyatu dengan alam, kta dapat tinggal di rumah – rumah adapt yang berciri khas Lampung Barat dengan konsep Homestay, sehingga kita dapat merasakan keseharian masyarakat pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk daerah perkotaan. Konsep ini juga memungkinkan kita untuk terjun langsung melakuka n aktifitas mereka misalnya bercocok tanam di sawah, mandi di sungai dll.
  1. Wisata Alam
Dengan dikelilingi oleh Bukit Barisan Selatan dan Gunung Pesagi , Lampung Barat menawarkan cuaca dan udara yang sejuk serta memiliki pesona Alam yang menakjubkan.
Ø Gunung Pesagi
559dd3a6e1bfe9fb184b147bb31314a3indonesia
Gunung Pesagi merupakan gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2000 m dpl.
Dibalik pesonanya yang begitu eksotik , gunung ini menyimpan berjuta tantangan bagi para pendaki. Setiap tahunnya gunung ini banyak dikunjungi para pendaki baik dari sekitar Provinsi Lampung maupun dariPulau Jawa , Apalagi setiap tahunnya Pemda Kabupaten Lampung Barat mengadakan event Kebut Gunung Pesagi.
Ø Danau Ranau, Lumbok
dana-ranau-5
Danau Ranau adalah salah satu danau yang cukup terkenal di Lampung. Saat ini Danau Ranau terbagi menjadi dua bagian yaitu Palembang dan Lampung Barat, Danau Ranau bagian Lampung Barat terletak di pekon Lombok Lampung Barat , 24 km dari Liwa, Danau ini di kelilingi bukit bukit dan Gunung Seminung.
ranau_blog
Disini telah di bangun Fasilitas Hotel, Ruang Rapat, Ruang Santai serta Cottage – cottage yang berciri khas Rumah adat yang tersebar di di tepi danau.
pemandian-air-panas
Untuk Rekreasi disediakan Perahu Motor dan Perahu dayung (jukung), selain itu disana kita juga dapat menikmati pemandian air panas alami dari mata air di kaki Gunung Seminung.
Ø Arung Jeram Way Besai
besau
Dikenal memiliki Jeram Kelas II, sehingga rowrowyour-boat1tidak heran jika setiap tahunnya banyak orang berkunjung kesini untuk melakukan kegiatan Arung Jeram, dan pengunjungnya tidak hanya yang berasal dari Lampung tapi juga banyak yang datang dari luar Lampung seperti Jawa dll.
Ø Air Terjun Purajaya
Air terjun dengan ketinggian 20 m ini terletak di Pekon Purajaya, 60 km dari Liwa. Ciri khas air terjun ini adalah air yang jatuh bertingkat tiga. Panorama alam menuju lokasi sangat mempesona, dengan hamparan areal pesawahan yang yang menghijau dengan diselingi tambak.
Ø Panas Bumi Suoh
Terdapat Sumber Panas Bumi di Kecamatan suoh
  1. Wisata Bahari
    1. Sunset Labuhan Jukung
jukung
sunset-labuhan-jukung
Selain keindahan dan kebersian Pantainya, di Labuhan Jukung kita juga dapat menikmati suasana dikala mata hari terbenam ( Sunset ) yang tak kalah indah dengan Pantai Kuta Bali.
Ø Surfing di Pantai Tanjung Setia
sumatrasurfimage13
Obyek wisata yang satu ini adalah obyek wisata yang paling terkenal sampai ke luar negri.
Dengan ketinggian ombak 5 m dan panjang gelombang 200 m, Tanjung Setia menjadi salah satu Pantai dengan ombak tertinggi di dunia, setiap tahunnya tidak kurang dari 100.000 wisatawan asing yang berasal dari Australia, Portugal, Belanda, Jepang dan Amerika berkunjung ke pantai ini untuk melakukan aktifitas Surfing.
Ø Fishing Blue Merlin
inf-blue-merlin
Merupakan suatu aktifitas Pemancingan Internasional ikan Blue Merlin, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang melakukan aktifitas pemancingan Blue Merlin di sini.
Blue Merlin adalah ikan yang habitatnya hanya di Perairan Pesisir. Dengan telah di bangunnya Dermaga Tembakak, kita dapat melakukan aktifitas pemancingan Ikan Blue Merlin mulai dari Lemong hingga Bengkunat
  1. Wisata Hutan ( Wana Wisata)
Ø Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS)
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan TNBBS Kruimerupakan salah satu warisan dunia di bidang hutan khususnya Hutan Tropis, dengan segenap keanekaragaman hayati serta Air Terjun Kubu Perahu.
  1. Wisata Agro
Ø Perkebunan Kopi Robusta
foto-kopi-liwa4
Perkebunan sepanjang Way Tenong, Sumber Jaya dan Sekincau sebagai sentra-sentra penghasil sayur mayur, buah-buahan dan komoditas hortikultura.

Artikel by : Artha
email : ArthaLand@gmail.com

Minggu, 12 Juni 2011

Kejuaraan Surving Internasional di Pantai Cimaja - Sukabumi - Jawa Barat


Kejuaraan Surving Internasional di Pantai Cimaja
Penulis : *

PANTAI Cimaja Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi tuan rumah kejuaraan surving internasional atau "West Java International Surving Championship" yang dijadwalkan digelar 12-18 Juni 2011. 

Kejuaraan Surving Internasional di Pantai Cimaja
Ilustrasi -- ANTARA

Kegiatan yang akan digelar di bibir pantai sepanjang 750 meter dengan ketinggian gelombang 1-2 meter itu merupakan bagian dari agenda Indonesia Surving Championship dan Asian Surving Championship Tour 2011.

Sebanyak empat negara ambil bagian dalam kejuaraan itu yakni Malaysia, Thailand, Filipina dan Australia. Bahkan negeri Kanguru diwakili oleh atlet surving profesional Jack Peterson sedangkan andalan Indonesia adalah Dede Suryana.

Kejuaraan itu cukup bergengsi karena merupakan kejuaraan bintang enam, dengan peserta dari luar negeri. Indonesia khususnya dari Jawa Barat, akan menurunkan peserta dalam jumlah besar.

"Ajang ini sebagai uji coba dan mengukur kemampuan prestasi atlet surving di Indonesia, mereka akan bersaing dengan peserta luar negeri," kata Kepala Disparbud Jabar Herdiwan.

Nomor pertandingan antara lain kategori putra dan putri terbuka serta kelas master di atas 35 tahun. Demikian halnya untuk kategori kejuaraan Asia juga mempertandingkan nomor yang sama.

Herdiwan menyebutkan, karakter lokasi surving di Pantai Cimaja cukup unik karena memiliki karakter gelombang yang komplit. Selain itu lokasinya cukup aman dan pemandangannya cukup elok.

"Pantai Cimaja disiapkan menjadi ajang kejuaraan surving internasional, karakter gelombangnya khas dan lengkap. Saat ini Cimaja sudah menjadi salah satu destinasi bagi wisata di Jabar, khususnya penggemar surving," kata Herdiwan.

Kejuaraan bahari tingkat internasional itu rencananya akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat H Ahmad Heryawan. Selain menggelar kejuaraan, kegiatan itu juga akan dimeriahkan dengan berbagai pergelaran kesenian tradisional dan pameran.(Ant/X-13)

www.mediaindonesia.com

Sabtu, 11 Juni 2011

ASIKNYA NAIK GAJAH KE HUTAN DI WAY KAMBAS BERSAMA KELUARGA



KALAU mau melihat Gajah dengan puas, jangan Cuma di Kebon Binatang.Pergi saja bersama keluarga wisata ke “Taman Nasional Way Kambas” ( TNWK ) DI “ Provinsi Lampung “ tentunya tidak jauh dari Jakarta bukan.
Disana kita bias bermain main langsung dengan gajah gajah liar yang sudah di Jinakkan oleh para pelatih yang berpengalaman. Gajah Gajah tersebut bisa ditunggangi keliling Hutan TNKW, dan kita pun sekalian bias melihat tempat penangkaran Gajah Sumatra.

Apakah hanya Cuma ada gajah di Way Kambas ?
Ternyata tidak hanya gajah saja yang ada disana,selain kita bias menikmati suasana alam yang segar karena masih Hijau dan Sejuk,juga masih banyak jenis binatang lain yang tak kalah menariknya.

Hal ini sangatlah menarik dan boleh dicoba berlibur bersama keluarga atau bersama teman teman saat liburan sekolah nanti.

Sejarah Taman Nasional Way Kambas :
Taman Nasional Way Kambas berdiri berdasarkan SK Mentri kehutanan
No : 670/Kpts-II/1999.
Nama           : TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS.
Berdiri        :  1985.
Luas TNWK : kurang Lebih 125.621,3 hektar.
Gajah sdh Jinak : 290 Ekor.
Letak           : Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.
Hewan yang ada : Gajah, Harimau Sumatra,Badak Sumatra,aneka Macam
                            Burung,Reptil dan Ikan.

Hewan hewan ini hidup dalam Ekosistem Hutan dataran rendah yang terdiri dari Hutan Rawa air Tawar,Semak belukar,hutan dan Pantai.Lokasi TNWK ada di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.

Gajah Gaja yang hidup di TNWK ada yang masih Liar dan ada juga yang sudah jinak,Gajah gajah tersebut dilatih berbagai bentuk permainan seperti Sepak Bola,Gajah Berdiri, Gajah Duduk,Gajah Menggalungkan Bunga,Memberi Hormat,dan tak kalah menariknya gajah pun bisa berpose saat akan diFoto bak pragawati.

“ MENUNGGANG GAJAH  “

Ketika kita sampai di pintu gerbang SELAMAT DATANG di TNWK,
Para pengunjung membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,-.
Lalu kita mulai masuk ke dalam kawasan TNWK.yang jaraknya kurang lebih 9 Kilometer.Para penggunjung akan langsung ke lokasi Gajah gajah berlatih,
Ditempat inilah kita bisa melihat para gajah gajah berlatih dengan para pelatihnya .

Bagi pengunjung yang ingin “SAFARI dengan GAJAH “ cukup mengeluarkan biaya Rp 50.000,-.Anda akan berkeliling masuk hutan belantara,ke semak semak belukar,ke Habitat Gajah.tentunya anda tidak sendirian ,anda akan ditemani oleh sang pawang gajah. Sangatlah murah dan menarik karena sebuah pengalaman yang langka tentunya ini.

Bagi yang ingin menyaksikan atraksi Gajah dikenakan tiket Rp 15.000,- saja.
Dilokasi TNKW anda sekeluarga ta perlu khawatir kelaparan karena disana juga ada jualan berbagai makanan.

“ HARIMAU SUMATRA “

Selain dikenal sebagai tempat pemeliharaan Gajah, Taman Nasional Way Kambas juga ada berbagai binatang seperti : Harimau Sumatra,Badak Sumatra,Anjing Hutan,SiAmang, serta berbagai macam burung antara lain : Bebek Hutan,Bangau.Berbagai repti dan ikan juga ada di TNWK.

Di Pusat pelatihan Gajah selain kita bisa bersafari dan melihat atraksi kita juga dapat menyaksikan cara para pelatih gajah mendidik dan melatih gajah liar hingga menjadi jinak.Ini pekerjaan yang luar biasa.Para pawang pawang ini sudah berpuluh tahun menggeluti pekerjaan ini.Penuh kesabaran dan keuletan.

Karena gajah gajah ini sudah sampai ke taraf bermain sirkus,seperti atraksi main Sepak Bola,menari,berjabat tangan,memberi hormat,mengalungkan bunga,tarik tambang, berenang dan lain lain.

Lokasi TNWK yang begitu luas dengan dataran nanindah serta asri,bisa digunakan untuk berkemah atau menyambut pergantian tahun baru.

Sedang bagi masyarakat yang menyuka tantangan & penelitian  di TNWK sangat lengkap dengan menyusuri Kali Biru,Rawa Gajah dan Kuala Kambas.

63 Gajah sudah terlatih.
Pusat pelatihan Gajah ini didirikan sejak 1985.
Gajah yang suda sangat terlatih ada 63 ekor dan didampinggi pawing sebanyak 63 pawang Ahli.

Bagai mana cara menuju TNWK ???

Untuk mencapai Taman Nasional Way Kambas tidaklah sulit.Karena jalannya bagus dan bisa ditempuh dari arah mana saja Darat,Laut dan Udara.

Kalau dari Jakarta : Bisa menggunakan Bus atau mobil pribadi menuju pelabuhan Merak ( Banten ),lalu naik kapal Feri dan turun di Pelabuhan Bakauheni,Lampung.
Kemudian naik Bus/Mobil menuju ke Jalan Way Jepara langsung masuk ke arah TNWK.Hanya menghabiska waktu 8 jam perjalanan.

Dari Bandar Lampung : Naik kendaraan Melewati Metro masuk ke Way Jepara dan langsung masuk ke TNWK, Hanya menghabiskan waktu 2 jam ( denga jarak 112 km ).

Dengan Pesawat terbang ( Wisatanan domestik dan Internasional ).
Dari Jakarta ( Bandara Sukarno Hatta ) naik pesawat jurusan Lampung ( Bandara Raden Intan Branti ),Dari Bandara Branti naik Mobil melewati Metro ( Ibu kota Lampung Tengah ),lalu ke Way Jepara,setelah itu langsung menuju ke TNWK. Total Waktu Dari Bandara Branti kje Way Kambas hanya 1 Jam 30 menit ( Jarak 100 km ).(koesma/ds)

www.poskota.co.id

Selamat menikmati perjalanan ke Way kambas,selamat berpetualang dengan Gajah Sumatra.

Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com