Daftar Blog Saya

Apa yang anda cari

Pesan Tiket Pesawat

Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 November 2012

Ertiga Pecahkan Rekor Dunia


Konvoi Ertiga Pecahkan Rekor Dunia

Dadan Kuswaraharja - detikOto
Sabtu, 24/11/2012 17:00 WIB















Jakarta - Konvoi Suzuki Ertiga di Jakarta akhirnya bisa memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia. Bahkan konvoi ini bisa membukukan rekor dunia dari Indonesia pula.

"Acara Pesta Ertiga di Jakarta menurut museum rekor MURI, memecahkan rekor dunia, dengan konvoi 2.379 kendaraan untuk kendaraan sejenis dalam kondisi hujan," ujar 4W Marketing & Dealer Network Development Director PT Suzuki Indomobil Sales Endro Nugroho kepada detikOto di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

"Saya bangga dan ingin mempersembahkan ini untuk para pemakai Ertiga, yang telah berpartisipasi dalam memecahkan rekor dunia maupun pencapaian keiritan bahan bakar yang luar biasa," tambah Endro.

Endro tidak memungkiri konvoi kali ini menimbulkan kemacetan di Jakarta. Atas nama Suzuki, Endro pun meminta maaf kepada warga Jakarta yang merasa tidak nyaman dengan konvoi Ertiga.

"Kami mohon maaf kalau misalnya menimbulkan kemacetan di beberapa titik," ujarnya.

Sebelum konvoi dimulai lanjutnya, Suzuki sudah mengirim sms blast dan BlackBerry Messenger terkait kemacetan yang terjadi gara-gara konvoi.

"Sangat sulit bagi kami untuk tidak menimbulkan kemacetan. Mudahan jadi atraksi menarik kok ini ada mobil yang sama berjejer rame-rame ke satu tempat," ujarnya.



Piagam rekor MURI pun langsung diserahkan oleh pendiri MURI, Jaya Suprana, kepada PT. Suzuki Indomobil Sales (SIS), di Taman Mini Indonesia, Jakarta Timur.


Konvoi Ertiga menurutnya jadi sarana untuk berliburan bersama keluarga.

"Apalagi kondisi kota asyik juga untuk jalan-jalan. Dan ini ajang silaturahmi, acara bagus, dan kita harus menjaga ketertiban di jalan," ujarnya lagi.

Pengguna lain Anto datang dari Bogor juga sengaja datang untuk mengikuti konvoi.

"Dari pada di rumah, karena ini momen besar untuk Ertiga," ujarnya.

Syahrul dan Anto merupakan sebagian dari pemilik 457 mobil Ertiga yang berangkat dari Carrefour MT Haryono.

"Kita seneng konvoi ramai-ramai, dan kita ingin ikut gathering, dan ingin berpartisipasi dalam pecahkan rekor MURI," ujar Izal.

 "SELAMAT UNTUK SUZUKI ERTIGA ATAS REKOR MURI

 YANG DIRAIHNYA"


SUZUKI ERTIGA FOR YOUR EXCITEMENT

Disalin dari : DetikOto
Cahpordjo76

Senin, 12 Maret 2012

Duren Kaligesing Lan Sejatining Hurip



11th January 2012 | By: Masdodi
Kita musti banyak belajar dari cara hidup masyarakat Kaligesing di musim durian.
Ketika musim durian tiba, hampir semua sudut kota Purworejo penuh dengan pedagang durian. Pemandangan ini pada prinsipnya sama dengan pemandangan daerah lain ketika musim buah-buahan tiba. Sebut saja misalnya ketika musim mangga tiba, maka daerah sepanjang Indramayu di Jawa Barat atau Probolinggo di Jawa Timur penuh dengan pedagang mangga musiman. Demikian juga di Purworejo, saat musim durian tiba, pedagang durian musiman bagaikan laron di musim hujan. Di pasar-pasar, di emper toko, di pinggir jalan, bahkan di halaman masjid, penuh dengan durian. Saat musim durian tiba, stok durian di Purworejo berlebih, dampaknya harga durian terjun bebas hingga Rp 3000 per buah.


Ada beberapa wilayah di Purworejo yang merupakan sentra perkebunan durian, seperti Loano, Gebang dan Bruno, tetapi penghasil durian terbesar di Purworejo adalah wilayah Kecamatan Kaligesing. Kaligesing adalah nama salah satu dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kecamatan dengan luas 69 km² ini memiliki jumlah penduduk sekitar 35.562 jiwa menurut data BPS tahun 2000. Kecamatan yang berada di perbukitan ini memiliki 21 desa atau kelurahan.
Kaligesing memiliki banyak keunikan. Ia bahkan lebih terkenal bila dibandingkan kecamatan lain di Purworejo. Nama Kaligesing menasional setidaknya karena beberapa hal seperti, tempat kelahiran Pahlawan Nasional WR Supratman, Kambing Ettawa, Goa Seplawan , Tari Dolalak, dan Duren Kaligesing.
Masyarakat di sekitar Purworejo sudah mafhum dengan “kehebatan” durian Kaligesing. Dulu, ketika musim liburan semester, teman saya yang kebetulan kuliah di UGM selalu main ke Kaligesing berburu durian. Pada musim durian, kota Purworejo menjadi “hidup”. Pecinta durian dari Wonosobo, Magelang, Kebumen, Jogjakarta berbondong-bondong ke Kaligesing untuk menikmati durian yang memang punya rasa khas. Bahkan, ada teman saya dari Jakarta, seorang lawyer yang rela ke Purworejo hanya untuk menyantap durian Kaligesing.
Mengapa durian Kaligesing punya daya “magis” sehingga banyak orang merindukannya? Iya, karena durian ini berbeda rasa dengan durian lain, meski sama-sama dari Purworejo. Kualitas rasa durian Kaligesing terjaga sejak zaman dulu hingga sekarang. Tak heran kalau banyak orang yang bilang ,”jangan bilang pecinta durian kalau belum makan durian Kaligesing”.
Rahasia Di Balik Rasa
Keistimewaan durian Kaligesing ada pada rasanya. Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Yang jelas manis, legit, nyamleng, dan tidak bikin mual. Jika tidak ingat kolesterol, maka orang akan makan durian Kaligesing sepuasnya dan sekenyangnya sampai mblenger .
Keistimewaan ini bukan tanpa usaha. Awal Januari 2012, kebetulan ke Purworejo dan bertemu dengan teman saya yang asal usulnya dari Kaligesing. Teman saya ini sekarang tinggal di Jakarta, orang tua di Gebang. Ia memiliki silsilah dari Kaligesing. Setiap kali musim durian, keluarga yang di Gebang selalu dikirimi durian. Saya penasaran dengan kehebatan durian Kaligesing, lalu saya banyak tanya terhadap teman saya ini. Ia lantas bercerita.
Menurutnya, durian Kaligesing berbeda dengan durian lain karena buahnya masak dari pohon, tidak dipetik sebelum jatuh. Durian Kaligesing tidak diimbu sebagaimana durian-durian lain. Durian Kaligesing matang bukan karena disimpan, tetapi matang secara alami.
Masyarakat Kaligesing, kata teman saya, punya tradisi yang dipertahankan sejak dulu sampai hari ini untuk menjaga kualitas duriannya. Setiap kali musim durian, masyarakat se-Kaligesing sudah paham dengan aturan tak tertulis, bahwa siapapun dilarang memetik durian. Masyarakat sepakat durian sengaja dibiarkan jatuh dengan sendirinya. Masing-masing orang yang memiliki pohon durian wajib menjaga duriannya, baik siang atau malam hari. Setiap orang yang punya pohon durian wajib ronda menjaga duriannya.
Jika kebetulan ada orang yang melihat durian tetangga jatuh, maka orang itu wajib melaporkan durian itu kepada pemiliknya. Ia dilarang menyembunyikan apalagi memilikinya. Jika melanggar, ndilalahnya ada saja sial yang dialaminya. Atau bisa jadi, tetangga yang lain ramai-ramai mencemoohnya.
Jika ada orang yang memaksakan diri memanen duriannya dengan cara memetiknya, maka orang itu akan terkucil dengan sendirinya. Jika ada orang yang menyembunyikan durian tetangga yang tidak diketahui pemiliknya, orang itu lama kelamaan akan mengakui, bahwa ia telah nyolong durian tetangga. Maka, di Kaligesing tidak ada pedagang yang membeli durian yang masih di atas, apalagi dengan sistem ijon, sebagaimana yang dilarang syariat Islam.
Tradisi ini terpelihara sejak ratusan tahun yang lalu, hingga kini. Hebatnya, masyarakat Kaligesing seolah satu suara, koor dan sepakat mempertahankan tradisi yang luar biasa ini. Maka, tidak heran kalau Kaligesing adem ayem dan aman tenteram, karena setiap orang memiliki kesadaran yang tinggi. Setiap orang tahu betul hak dan kewajibannya dan setiap orang tahu sanksi yang bakal diterimanya jika melanggar aturan itu.
Hikmah yang Terkandung
Berkaca dari pola hidup masyarakat Kaligesing dalam hal menjaga cita rasa duriannya, maka sejatinya orang hidup di mana pun, sejatining hurip, setiap orang harus bisa menahan diri, harus bisa menempatkan diri, dan harus bisa menjaga diri. Masyarakat Kaligesing bisa menahan diri untuk tidak terburu-buru memanen durian. Masyarakat Kaligesing bisa menempatkan diri untuk tidak menyerobot durian tetangga yang jatuh. Masyarakat Kaligesing bisa menjaga diri untuk tetap mempertahankan ciri khas durian “miliknya”. Masyarakat Kaligesing sepakat “berpuasa “ untuk memetik hasil yang maksimal. Dan, hasil maksimal itu adalah sebagaimana yang saya dan Anda semua rasakan, “Duren Kaligesing memang Beda
Prestasi dan perjuangan masyarakat Kaligesing seharusnya mendapatkan perhatian dan apresiasi dari pemerintah daerah. Setidaknya pemerintah bisa membantu mengampanyekan potensi ini hingga ke luar daerah, jika perlu ke tingkat nasional. Lebih jauh pemerintah daerah harus bisa menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa durian Kaligesing memiliki keunikan tersendiri, sebelum diklaim oleh daerah lain atau oleh Malaysia. Itu saja. Sri Widodo Soetardjowijono.

Dikutip dari : Blogger Purworejo Community

Minggu, 25 Desember 2011

BABAD NAGARI PURWOREJO

 




Purworejo atau yang dikenal dahulu sebagai Bagelen berdiri sejak 5 Oktober 901 Masehi. Bagelen dahulu merupakan mancanegara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keduanya saling berkaitan dalam sejarah Babad Dipanegara lan babad Nagari Purworejo, Babad Tanah Jawa dan Kitab Negara Kertagama

SEJARAH PERTAMA
 
Sejarah berdirinya Purworejo, berdasarkan adanya Prasasti “ Kayu Ara Hiwang” atau dikenal sebagai Parasasti “Boro Tengah” Yaitu prasasti tentang peresmian Tanah Perdikan (sima) , Kayu Ara Hiwang yang ditemukan di bawah pohon / tanaman Kayu Sono di dukuh Boro Tengah, tepi sungai Bogowonto atau sungai Watukura. , sekarang masuk wilayah kecamatan Banyuurip.

Prasasti batu Andesit yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna sebanyak 21 baris ini sejak tahun 1890 telah dipindahkan dan disimpan di Museum Nasional Jakarta Jl Merdeka Barat , dengan inventaris No 78. Prasasti Kayu Ara Hiwang menyebutkan tahun Saka 823, bulan Asuji, hari kelima bulan Paro Petang, Vurukung Senin (wuku) Margasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi. Saat itu Raka dari Vanua Poh, Dyah Sala (Mala), putra dari Sang Ratu Bajra yang tinggal di Parivutan, telah menandai Desa Kayu Ara Hiwang yang masuk wilayah Vatu Tihang, menjadi tanah perdikan. Daerah tersebut dibebaskan dari segala pajak, kesemuanya itu untuk memelihara tempat suci Parahyangan. Selain itu , pangeran dari Parivutan mensucikan kejelekan.

Dalam Parasasti tersebut diungkapkan bahwa pembebasan Kayu Ara Hiwang dari kewajiban membayar pajak dan menjadi tanah perdikan , meliputi segala yang dimiliki desa , meliputi : katika, guha, katagan, gaga. Juga disebutkan , Rakaryan dari Vatu Tihang., Pu Sanggrama Surandhara, penduduk Gulak yang masuk wilayah Mahmili menerima pakaian ganja haji patra sisi satu set, perak satu kati dan prasada voring sebanyak satu swarna. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan para pejabat dari berbagai tempat antara lain dari Paranggang, Padamuan, Mantyasih, Medang, Pupur, Taji, Watu Tihang Kasugihan, Pakambingan, Varu Ranu, Lampuran, Watu Hyang, Alas Galu, Pakalangkyang, Pagar Vsi, Sru Ayun, Sumumilak, dan Kalungan. Para Pejabat yang hadir tersebut menerima Pasek-pasek berupa pakaian berwarna dan emas seberat satu swarga, satu masa enam masa dan dua belas masa, atau perak satu kati atau satu karsa dua masa.
Sedangkan sampai detik ini tempat-tempat yang disebutkan dalam parasasti tersebut diantara masih ada dan masih bisa dikenali, antara lain Mentyasih = Magelang, Vatu Tihang = S(e)olo Tiang (daerah Loano), Taji = Prambanan , Kalughan = Kalongan Loano dan sebagainya..

Dilihat dari tahun dikeluarkannya prasasti tersebut , dipastikan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa kekuasaan, Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, seorang maharaja terbesar pada masa Mataram Kuno. Dan mempunyai wilayah dan mempunyai wilayah kekuasaan dari Jawa Tengah, Jawa Timur sampai ke Bali. Dyah Balitung dikenal sebagai Pangeran yang memiliki wilayah Palungguhan di lembah sungai Watukura, sungai besar yang mengalir dari Gunung Sumbing sampai kelautan Hindia , pantai selatan Jawa Tengah.

Menurut Van Der Meulen SJ, pendiri Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, wilayah Bagelen berbentuk segitiga, tempat yang sekarang dikenal bernama Ledok, merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Basisnya Pantai Selatan, puncaknya Gurung perahu (Dieng) Sungai yang terutama adalah Bogowonto atau Watukura.. Van der Muelen bahkan berpendapat, apa yang dinamakan Holing dalam Tiongkok Kuno seharusnya dibaca Halin, yakni singkatan dari Baghahalin (bagelen), kerajaan yang berlokasi di lembah sungai Bogowonto atau sungai Watukura. Bagelen tersebut sama dengan Pagelen yang disebut dalam Babad Tanah Jawi, kerajaan yang semula diperintah Khulun. Pendapat Van der Meulen tersebut yang menggali isi Kitab Cerita Parahyangan dan Babad Tanah Jawi tersebut, menurut Dr N. Daljoeni merupakan sumbangan yang telah mengobori pronto sejarah yang gelap abad ke-5 sampai dengan abad ke-7.

Sekalipun dalam prassti Kayu Ara Hiwang secara implisit disebutkan nama Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, namun dalam prasasti tersebut disebutkan, nama “Sang Ratu Bajra”. Tokoh ini diduga keras adalah adalah, Rakryan Mahamantri / Maha Patih Hino, Sri Daksottama Bahunbajra Pratipaksaya atau Daksa orang kedua setelah Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura. Jadi sebutan “Sang Ratu “ layak diberikan kepadanya karena dalam sejarah perkembangan berikutnya, Daksa adik ipar Balitung naik tahta menjadi raja menggantikan Balitung. Di sisi lain dalam prasasti “Sipater” parasasti batu yang ditemukan di wuwungan (bagaian dalam atap yg tertinggi) Masjid Jenar Kidul tahun 1981 tidak jauh dari lokasi Boro Tengah mengungkapkan pembuatan sebuah “dawuhan” atau tanggul / dam untuk mengairi persawahan. Dalam prasasti tersebut disebutkan nama seorang Samgat dari Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah (anak wanua) Pariwutan dalam wilayah (watek) Ghaluh. Selain itu dalam prasasti “ Tulanana’” tahun 823 Saka. Dyah Balitung Watukura juga disebut sebagai Rakai Galuh, penguasa daerah Galuh. Dengan demikian pendapat Profesor Purbatjaraka, bahwa Dyah Balitung Watukura adalah seorang Pangeran berasal dari Kedu Selatan atau Bagelen adalah benar.
Menurut Prof. Purbatjaraka, nama “Pagelen” atau “Bagelen” itu berasal dari kata “Pagalihan” yaitu daerah yang masuk wilayah Galuh.. Kata “Galih” menurut menurut pendapatnya adalah bentuk karama dari kata Galuh. Contohnya kata Pangguh = Panggih, Lungguh=Linggih, Rungkuh=Ringkih. Dengan demikian , Pegaluhan, Pegalihan, Pagelen, dan Bagelen memang merupakan wilayah kekuasaan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura yang ditandai dengan sebuah aliran Sungai Besar, Sungai Watukura yang kemudian dikenal dengan nama sungai Bogowonto, karena dikedua tepinya banyak Begawan berada. Dalam sejarah berikutnya , daerah Watukura masih dikenang. Ini terbukti dalam naskah Negara Kertagama , Raja Hayam Wuruk masih menyebut nama tersebut. Sedangkan dalam masa kerajaan Demak, Bagelen merupakan suatu propinsi yang dipimpin oleh seorang Tumenggung. Para Kenthol Bagelen memegang peranan penting dalam pembentukan Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya yang kemudian bergelar Sebagai Panembahan Senapati telah mengingat persaudaran dengan para Kenthol Bagelen. Para Kenthol itu pula merupakan pasukan andalan dalam menumpas pemberontaka-pemberontakan maupun dalam operasi operasi militer, termasuk dalam pertempuran melawan VOC di Batavia.
Kesatuan dan kesetiaan orang-orang Bagelen mulai digoyah, tatkala di Kerajaan Mataram timbul pertikaian. Berdasarkan Perjanjian Giyanti , 13 Februari 1755, atas prakarsa VOC Belanda, wilayah Bagelen (Purworejo) dibagi dalam dua bagian sebagian masuk wilayah Surakarta dan sebagian lagi masuk wilayah Yogyakarta. Namun pembagian tersebut tidak jelas batas-batasnya.”Tumpangpuruk, campur baur seperti rujak” Ungkap Laksono salah seorang peneliti. Pemecah belahan ini makin terasa tatkala abad ke-19 pecah perang Diponegoro.

Di Kutip dari Mas Purwo
http://www.purworejokedu.blogspot.com

Sabtu, 06 Agustus 2011

Sepuluh Liburan yang Paling Diimpikan


Sepuluh Liburan yang Paling Diimpikan Orang Kaya Hong Kong

CNNGo
Oleh Emma Matthews

Emma Matthews adalah kepala layanan concierge mewah Quintessentially. Di sini ia berbagi daftar tujuan-tujuan liburan yang paling diinginkan oleh anggota premium layanannya dari Asia Pasifik.

Layanan kapal mewah terbaru: berlayar keliling Indonesia dengan kapal pinisi Silolona Boat.

Tinggal di hotel bintang lima atau bersantai di pantai adalah liburan impian banyak orang, tetapi bukan kegiatan seperti itu yang dicari pejalan mewah. Mereka mencari perjalanan yang memberikan pengalaman sekali seumur hidup atau kemewahan. Saking larisnya tipe liburan seperti ini, Quintessentially Escape pun didirikan.

Tipe liburan yang mereka inginkan termasuk menonton ikan paus di Argentina, mencicipi wine di Afrika Selatan, safari mewah di Kenya, tur privat ke Piramida, atau tur berkendara sepanjang Cina bagian barat. Tujuan-tujuan populer para turis kaya ini termasuk India, Mesir, serta Afrika, tapi kini makin banyak permintaan yang muncul buat Cina. Negara-negara Amerika Latin, seperti Peru, Brasil dan Kosta Rika pun terbukti populer.

Para pejalan mewah ini mencari pengalaman autentik, tapi mereka juga menginginkan hotel, resort dan penerbangan yang peduli lingkungan. Tanggung jawab lingkungan yang mereka incar bukan sekadar membatasi pencucian handuk. Mereka lebih tertarik pada bagaimana perjalanan mereka mendukung komunitas lokal dan menggunakan bahan-bahan alami. Mereka tidak mau bersembunyi di resort yang tertutup — justru mereka ingin lebih mendalami tempat tujuan serta orang-orangnya.

Beberapa paket liburan yang sudah disediakan untuk anggota Quintessentially termasuk: tur berkendara di Cina, trekking di Papua Nugini, liburan berkuda di Mongolia, berlayar di perairan Asia menggunakan yacht privat seperti Silolana, mencicipi wine di Afrika Selatan, berbagai hal yang melibatkan Amerika Latin seperti Meksiko, Kosta Rika dan Argentina, serta tur arkeologis di Mesir.

Berikut adalah beberapa tujuan mewah populer di Asia yang dikunjungi oleh anggota Quintessentially:

1. Leti 360°, India

Leti 360°adalah hotel butik yang bersarang di ketinggian 8000 kaki (2500 m) di pegunungan Himalaya. Tempat ini betul-betul menawarkan pengalaman sekali seumur hidup: jarang ada turis yang lewat, dan Anda harus tinggal di sini paling tidak tiga malam. Tak ada jaringan Internet, sinyal jaringan telepon seluler pun terbatas. Orang kaya Hong Kong akan menikmati langit pagi dan malam yang bersih, sangat berlawanan dari kota mereka yang pengap dan penuh asap polusi. Hotel ini hampir semuanya terbuat dari material lokal. Bayangkan saja lampu-lampu tembaga, furnitur dari kayu jati Burma, api unggun, dan tempat tidur dengan dinding kaca di dua sisi. Lansekap yang muncul di sini, budaya serta orang-orang yang kami temui juga lebih dekat ke India daripada paket perjalanan mewah lain di daerah ini.


www.shaktihimalaya.com

2. Sal Salis, Ningaloo Reef, Australia

Sal Salis adalah kemewahan di tengah semak liar, sehingga Anda tak perlu menderita saat berkemah di taman nasional Cape Range. Ada lima tenda luas di pantai, langsung menghadap Samudera Hindia. Akomodasi sudah termasuk tempat tidur yang sangat nyaman, teras dan detil bangunan yang ramah lingkungan. Tempat ini tepat untuk memandang langit di malam hari dan melihat pemandangan karang dan tebing Mandu Mandu di sekitar situ.
www.salsalis.com.au 

3. YL Residence No. 17, Koh Samui

Villa pribadi di Koh Samui ini hampir tak bisa dipercaya. Mewah dan sangat eksklusif, lengkap dengan gadget keluaran terbaru dan desain sederhana warna putih yang terlihat seperti rumah seorang bintang kelas A di Hollywood. Ada sepuluh kamar tamu, sebuah perpustakaan, ruang permainan, bar koktail, kolam renang dan klab malam, serta tambahan kebun dan pantai. Tempat yang sangat keren.

www.ylresidence.com 

4. Tawaraya Ryokan, Kyoto, Japan

Inilah ryokan (penginapan khas Jepang) terbaik di Jepang, Tawaraya betul-betul mempesona dan autentik. Selama 300 tahun, tempat ini sudah dikelola oleh satu keluarga yang sama, yaitu keluarga Okazazi. Awalnya tempat ini dimaksudkan sebagai pusat pedagang tekstil. Akomodasi di tempat ini cukup sederhana — semuanya beralaskan tikar khas Jepang tatami — tapi nyaman dan staf di sini hangat serta ramah. Mereka akan menyiapkan hidangan Kaiseki tradisional setiap harinya. Selebritas seperti Marlon Brando dan Alfred Hitchcock pernah menginap di sini saat akan menjelajah ibu kota kuno Jepang, Kyoto, pada masa lalu.

5. Hotel De La Paix, Siem Reap

Berbagai aksen kuno Khmer terasa jelas di tempat yang ramah ini. Di sinilah tempat Anda mencari kemewahan untuk beristirahat setelah seharian mengagumi situs warisan dunia versi UNESCO Angkor Wat, sekitar 10 menit berkendara dari tempat ini. Beberapa fitur khusus tempat ini termasuk teras dengan bak rendam yang dirancang khusus, perawatan spa istimewa dan menu Khmer musiman yang padat dengan bahan-bahan lokal.

www.hoteldelapaixangkor.com 

6. Trisara, Phuket

Hanya kalangan terbatas yang tahu soal Trisara. Resort eksklusif dan spa ini terdiri dari kumpulan vila dengan kolam renang dan kamar-kamar mewah, semuanya menghadap langsung ke laut dari kolam-kolam pribadi. Tapi yang paling mengagumkan dari tempat ini adalah layanan dan suasananya. Semuanya sudah disediakan tanpa Anda harus meminta atau memikirkannya. Inilah tujuan untuk liburan singkat yang terus-terusan akan Anda datangi. 

www.trisara.com

7. Tenda Kemah Four Seasons, Segitiga Emas

Satu lagi pengalaman sekali seumur hidup yang mengagumkan dan sangat unik. Terletak di antara hutan bambu antara Thailand, Burma dan Laos, perkemahan ini terdiri dari 15 tenda di pinggir Sungai Ruak di wilayah Burma. Tamu-tamu bisa menjelajah bukit di sekitar kemah dengan berjalan kaki atau menaiki gajah dengan menelusuri jalur ekspedisi yang sudah termasuk dalam petualangan ini.

www.fourseasons.com/goldentriangle

8. The Peninsula, Shanghai

Buka sejak akhir tahun lalu, tambahan terbaru The Peninsula ini menawarkan berbagai teknologi perlengkapan hotel terbaik di dunia. Kamar-kamarnya luas dan mewah, tapi tempatnya di The Bund dan tampilan dekorasi Cina kontemporer dan art-deco akan memastikan Anda mengalami chic-nya Shanghai dari lokasi terbaik.

www.peninsula.com

9. Uma Paro, Bhutan

Tersembunyi di antara bukit-bukit Himalaya yang tertutup pinus, Uma Paro adalah kesederhanaan yang mewah. Sesuai dengan budaya pedesaan di sekitarnya, kamar-kamar di sini didekorasi dengan furnitur putih yang menenangkan, termasuk alas yoga tempat Anda bisa bersantai di depan pemandangan alam yang belum rusak. Ini harus Anda lihat sebelum Bhutan terbuka buat turis-turis umum.

www.uma.paro.como.bz 

10. Silolona Boat, Indonesia

Untuk petualangan yang sebenarnya, naiki perahu kayu tradisional tapi mewah ini di Langkawi dan berlayar selama enam hari. Perjalanan ini akan membawa Anda ke Taman Nasional Komodo, Flores, Sumba, Laut Sawu, Timor, Alor, Lembata untuk melihat karang-karang dan pulau-pulau mengagumkan. Perahu layar ini akan menjadi milik Anda selama seminggu dan terdapat lima kamar privat di sini, dekorasi deknya kebanyakan dari kayu jati, dan terdapat area bersantai. Juru masak di kapal ini benar-benar ahli -- setiap malam mereka akan menyajikan hidangan segar dan ada fasilitas penyelaman profesional lengkap dengan kru 17 orang untuk memenuhi berbagai kebutuhan Anda. Setiap malam, Anda bisa memilih untuk makan hidangan panggangan, menikmati api unggun di pantai atau jamuan makan malam di dek jati.

www.silolona.com 
www.bentoerotistviexpress.com
Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com