Daftar Blog Saya

Apa yang anda cari

Pesan Tiket Pesawat

Tampilkan postingan dengan label Dongeng Sebelum Tidur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng Sebelum Tidur. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

PENGUSAHA YANG AKAN DIJEMPUT MALAIKAT

"PENGUSAHA YANG AKAN DIJEMPUT MALAIKAT"

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Mala
ikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, “kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!

“Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . ” kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, “apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit”.

Dengan lembut si Malaikat berkata, “anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu”.

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Dilayar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka”.
Kata Malaikat, “aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu”

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, ”Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalau pun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri.” dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini, timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !
Dengan setengah bergumam dia bertanya, “apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?”

Jawab si Malaikat,’” ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogant, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah”.

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, “anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00″.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu?. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.

"Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu"

@@@

Cerita diatas mudah-mudahan bisa menjadi renungan kita bersama bahwa kekuatan doa adalah sangat kuat sehingga kita dianjurkan untuk selalu berdoa agar kita bisa selamat baik di dunia maupun di akherat. Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Senin, 28 November 2011

Clara dan Cermin Ajaib



Clara dan Cermin Ajaib 
Sep 5, '08 9:59 PM
untuk semuanya


                 “Huh…” Clara menghela napas panjang. Gadis kecil yang duduk di kelas 4 SD itu berjalan pulang dengan langkah gontai. Wajahnya murung. Tadi di sekolah, gurunya membagikan hasil ulangan. Nilai Clara jelek. Pasti Mama akan memarahinya.
                Dalam perjalanan pulang ke rumah, Clara melewati sebuah toko barang antik. Di jendelanya dipajang berbagai benda-benda menarik. Ada sisir model kuno dengan ukir-ukiran cantik di gagangnya. Ada lampu meja yang tutupnya terbuat dari bulu burung merak. Ada kotak perhiasan dengan gambar naga yang timbul di atasnya. Namun yang paling menarik perhatian Clara adalah sebuah cermin mungil dengan hiasan bunga di tepinya.
                “Tertarik dengan cermin tersebut?” Tiba-tiba wanita penjaga toko sudah ada di sampingnya. Rupanya, tanpa sadar Clara tengah memandangi cermin tersebut dengan penuh minat.
                “Mari masuk. Kutunjukkan kelebihan cermin ajaib itu. Cocok untuk gadis berwajah murung sepertimu,” ajak wanita penjaga toko itu. Rambutnya yang hitam panjang terkibas ketika ia melenggang masuk ke dalam toko. Demikian pula dengan gaun kelabunya.
Di dalam toko, wanita penjaga toko membiarkan Clara menimang-nimang cermin itu. “Ini cermin ajaib,” katanya. “Apapun masalahmu, cermin ini dapat memberitahukan kejadian di masa lalu yang menjadi penyebab masalahmu. Cukup katakan, ‘Tunjukkan di mana salahnya’.“
Ketika Clara tampak ragu, wanita itu melanjutkan, “Ambillah secara cuma-cuma. Sudah lama barang ini tidak laku.”
Clara begitu terpesona dan senang. Sampai di rumah, Clara mengunci pintu kamarnya, mengeluarkan cermin ajaib dari kantongnya, dan berkata, “Kenapa nilai ulanganku jelek? Tunjukkan di mana salahnya!”
Tiba-tiba hiasan bunga di tepi cermin berputar, mengeluarkan suara seperti jarum jam, “Tik-tuk-ti-tuk…” Dan bayangan kejadian dua hari yang lalu terlihat di cermin: Bobby, kakak Clara, mengajaknya bermain ketika Clara akan belajar untuk ulangan.
“Tentu saja,” pikir Clara dalam hati, “Ini gara-gara Bobby!” Clara merengut kesal. “Akan kubalas, lihat saja!”
Malam harinya, Bobby yang sudah duduk di kelas 6 SD sedang mengerjakan PR. Dengan niat membalas, Clara mengganggu Bobby. Mula-mula ia menantang Bobby main catur, “Ayolah, nanti saja buat PR-nya! Mari bertanding catur denganku! Aku pasti menang!”
Sayang, usaha Clara tidak berhasil. Bobby tahu bahwa ia harus mengerjakan PR terlebih dahulu. Apalagi, ia akan menghadapi ujian masuk SMP.
Clara tak habis akal. Kali ini, dipasangnya radio keras-keras sehingga Bobby tak bisa berkonsentrasi. Bobby  pindah ke ruang tengah. Clara mengikutinya. Di ruang tengah, Clara membuat pesawat terbang kertas dan menerbangkannya ke arah Bobby. Tentu saja Bobby kembali terganggu. Maka Bobby mengeluarkan jurus terakhir, “Mama…! Clara usil, nih, menggangguku belajar terus!”
Sebelum Mama datang memarahinya, Clara ngibrit  ke kamar! Dan, ups! Karena terlalu sibuk mengusili Bobby, Clara lupa mengerjakan PR-nya sendiri… Padahal hari sudah malam. Wah, harus bergadang, deh!
Keesokan harinya, Clara terlambat bangun pagi. Dengan terburu-buru, Clara mencari pakaian olahraganya. Hari ini ada pelajaran olahraga. Ia mengaduk-aduk lemari pakaiannya yang berantakan, tapi tidak menemukan pakaian olahraganya.
Alhasil, Clara dimarahi guru olahraganya. Aduh, apesnya… Salah siapa kali ini? Clara mengeluarkan cermin ajaib. Hiasan bunga segera berputar, dan suara tik-tak-tik-tak kembali terdengar. Terlihat bayangan kejadian satu minggu lalu. Saat itu, Bik Minah menanyakan pakaian olahraga Clara yang kotor. Bik Minah hendak mencucinya. Tapi Clara terlalu sibuk bermain boneka dan tidak mengindahkan Bik Minah.
 Ah, Clara ingat sekarang! Pakaian itu pasti masih di kantong yang ia bawa minggu lalu. Waduh, pasti sudah bau apek! Bagaimana, sih, Bik Minah! Clara kembali menyalahkan orang lain.
Hari ini, Bik Minah yang jadi sasaran kemarahan Clara. Apapun yang dilakukan Bik Minah, selalu saja salah di mata Clara. Susu yang dibuatkan Bik Minah terlalu manis. Masakan yang dibuat Bik Minah tidak enak. Dan masih banyak lagi.
Tentu saja Mama menegur ulah Clara, “Clara, kamu tidak boleh bersikap begitu pada Bik Minah. Mama rasakan, masakan Bik Minah enak seperti biasanya. Kalau kamu merasa masakannya tidak enak, kamu tidak usah makan!” Memang, Mama selalu bersikap tegas pada putra-putrinya.
Ditegur seperti ini, Clara menangis dan berlari ke kamarnya, “Hu-hu-hu… Kenapa aku mendapat masalah melulu akhir-akhir ini? Cermin ajaib, kali ini tunjukkan siapa yang salah! Kenapa aku dimarahi Mama?!”
Hiasan bunga di tepi cermin berputar. Suara tik-tak-tik-tak terdengar. Namun kali ini banyak sekali bayangan kejadian yang ditunjukkan cermin ajaib. Mulai dari Bobby yang membuatnya kemalaman membuat PR, guru olahraga yang galak, Bik Minah, juga dirinya sendiri. Siapa yang salah? Clara jadi pusing sendiri. Satu masalah yang ia bawa berlarut-larut membawa kepada masalah yang lain. Karena tak tahu siapa yang harus disalahkan, Clara kembali menangis putus asa.
“Tok-tok…” Pintu kamar Clara diketuk. Rupanya Mama.
“Kamu menangis, Sayang?” Tanya Mama lembut. “Ayo, ceritakan kepada Mama kenapa akhir-akhir ini kamu usil dan mudah marah?”
“Habisnya, semua orang membuat Clara mendapat masalah, Ma! Mula-mula Kak Bobby! Kemudian…” Clara pun menceritakan semuanya kepada Mama.
Setelah mendengar cerita Clara, Mama tersenyum sabar, “Kamu yakin semua itu gara-gara mereka? Bobby mengajakmu bermain, tapi kalau kamu menolak, Mama yakin Bobby juga tidak akan memaksa. Karena sibuk ingin membalas Bobby, kamu kemalaman membuat PR, dan tidak menyiapkan pakaian olahraga. Bik Minah pun tidak mencuci pakaian olahraga karena kamu tidak memberikan pakaian kotormu kepada Bik Minah, bukan? Padahal Bik Minah sudah menanyakannya kepadamu. Jadi semua ini adalah kesalahanmu sendiri. Iya, tidak?”
“Tapi, Ma… Menurut cermin ajaib, itu kesalahan mereka!”
“Cermin ajaib apa?” Mama bertanya bingung.
Tapi ketika Clara ingin menunjukkan cermin ajaib kepada Mama, cermin itu tersenggol dan jatuh dari atas tempat tidur. Cermin itu hancur berkeping-keping.
“Clara, bila menghadapi masalah, kita tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain dan berlarut-larut dalam masalah itu. Lebih baik, kita berusaha memperbaiki diri dan mencari cara bagaimana menyelesaikan masalah itu. Bukannya terus menerus melihat ke belakang. Ya, sayang?” Kata Mama bijaksana.
Clara mengangguk. Benar juga yang dikatakan Mama.

Di Copy dari : Dina Antonia

Jumat, 11 November 2011

Biji Sawi


Biji Sawi

Pada suatu ketika, di sebuah negeri nun jauh disana, hiduplah seorang perempuan bernama Kisagatomi. ia hanya mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Tetapi kemudian sang anak jatuh sakit. Meskipun Kisagatomi sudah melakukan segala usaha, sayangnya sang anak meniggal dunia. Kisagatomi sangat terpukul akan kematian anaknya dan masih belum dapat menerima kenyataan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Kemudian ia pergi ke beberapa orang temannya dan berkata, "Tolonglah, selamatkan anakku.." tetapi semuanya hanya memberikan jawaban yang sama: "Anakmu telah pergi, Kisagatomi. Sekarang ini tidak ada lagi hal yang dapat menolongnya".

Kisagatomi tetap berkeras, ia kemudian membawa sang anak dalam pelukannya dan pergi menghadap Sang Budha seraya memohon, "Tolong selamatkan anakku. Tolong berikan aku obat apapun yang mampu menyembuhkannya.."

Sang Budha dengan kebijaksanaannya kemudian berkata pada Kisagatomi bahwa Ia akan memberikan obat untuk anaknya itu. Tetapi itu membutuhkan bahan khusus dan istimewa, yaitu biji sawi.

"Tetapi", lanjut Sang Budha, "kau harus mendapatkan biji sawi itu dari sebuah rumah yang di dalamnya belum pernah ada siapapun yang meninggal dunia -baik orang tua,maupun anak-anak."

Kisagatomi kemudian menyanggupi, dan ia pergi berkeliling kampung untuk mendapatkan bahan istimewa itu. Dan setiap orang yang dijumpainya menyambutnya dengan senang hati dan mau membantu kesulitannya itu. Tetapi ketika ia menanyakan adakah sesiapa dari penghuni rumah itu yang telah meninggal dunia, semuanya menjawab iya. Rumah yang pertama didatangi mengatakan suaminya telah meninggal. Rumah yang kedua, anak perempuannya. Yang ketiga, sang nenek pula. Tidak ada satupun rumah yang memenuhi persyaratan itu.

Dengan perasaan sedih, Kisagatomi kembali menemui Sang Budha dan dengan letih berbaring di samping jasad sang anak. Kemudian ia berkata, "aku mengerti sekarang, apa yang Kau dan orang lain coba katakan kepadaku.."


Sang Budha dengan kebijaksanannya kemudian berkata kepada Kisagatomi, "Kau pikir bahwa kau sendirian dalam penderitaanmu. Tapi itu adalah sifat kehidupan dimana tidak seorangpun mampu lepas dari kepedihan yang sesungguhnya hanya sementara"



Di Copy dari rekan sebelah.


Selasa, 24 Agustus 2010

Lebah Madu

DONGENG SEBELUM TIRUR

LEBAH MADU
Karya : Desiree, S.Si

Fani silebah madu, sangatlah malang. Dia tidak tau jalan untuk pulang ke sarangnya, di Taman Bunga Matahari. Biasanya dia pergi mencari madu bersama Ibunya. Hari itu, dia ingin pergi sendirian, padahal dia masih belum paham dengan tarian lebah madu kelompoknya.

Taukah kalian, bahwa apabila seekor lebah madu menemukan bunga bernektar, dia akan kembali ke sarangnya kemudian memberi tau teman temannya letak bunga yang ditemukannya.

Fani bermain terlalu jauh hingga matahari hampir tengelam, Teman teman lebah yang lain sudah kembali kesarangnya. Fani menangis tersedu sedu mencari ibunya. Lalu datanglah Pak Kumbang menghampirinya. “Janganlah kau menangis! Besok Pagi akan aku antar kamu kesarangmu. Sekarang, maukah kamu pulang ke sarangku?” hibur pak Kumbang. “Tidak, terima kasih. Lebih baik aku disini saja, “isaknya.
“ Aku bisa mencari sendiri sarangku,” pikir fani. “ Masih ada matahari, aku akan mengikuti cahayanya,” katanya dalam hati. Namun ternyata hal itu tidaklah mudah. Hari semakin gelap. Semua serangga kembali ke sarang mereka masing – masing dan bersiap siap untuk tidur. Fani yang kebinggungan menanggis tersedu – sedu. Dia menyesal karena telah menolak kebaikan hati Pak Kumbang yang telah sudi menawarkan tempat menginap untuknya.

Serangga malam mulai keluar. Fani dapat melihat dalam gelap. Sambil menangis dia terus memanggil ibunya. “ Ibu.... Ibu.... Ibu.....
Tiba tiba muncul cahaya yang menyilaukan mata. Terbang mendekatinya. “ Hai ! Aku Ara dan ini Jo, temanku. Kami adalah kunang – kunang. Mengapa kamu menangis?” Sapa mereka brdua. Ternyata cahaya itu kunang – kunang. Jenis serangga malam yang mengeluarkan cahaya.

Fani segera menceritakan kejadian yang dialaminya. “ Kasihan...! Kami bisa membantumu. Terbanglah dibelakang kami, Cahaya kami akan membantumu melihat di kegelapan. “ Kata Ara dan Jo. Bukankah kalian sedang mencari makan ? tanya Fani. “ Kami bisa mencari makan setelah mengantarmu nanti, “ jawab mereka. Dan terbanglah mereka bertiga menuju Taman Bunga Matahari, Tempat Fani Tinggal. Setelah beberapa saat, bau bunga matahari segera tercium oleh Fani. Akhirnya, Sampailah mereka di taman bunga matahari. Fani segera mengenali sarang keluarganya yang tergantung diatas pohon besar.
Mendengar dengungan sayap lebah dari luar, Ibu Fani segera keluar dari sarangnya. “ Fani kaukah itu, nak? Teriaknya.
“ Ibu .... Ibu.... Ibu.... aku pulang!” teriak Fani segera memeluk Ibunya. “ Ooh ...., Syukurlah. Siapa mereka ? tanya Ibu Fani. “ Merekalah yang mengantarku pulang bu,” kata Fani. Lalu Ara dan Jo dipersilahkan masuk ke dalam rumah Fani. Ibu Fani menyajikan madu yang sangat Lezat hasil dari para lebah madu yang tinggal di Taman Bunga Matahari.


Pesan Moral :
“Akan Lebih indah hidup ini jika Semua peduli dengan sesama. Kita bisa merasakan penderitaan yang telah dialami oleh saudara dan teman – teman kita. Bersama – sama kita dapat memecahkan masalah yang ada”.
Compare hotel prices and find the best deal - HotelsCombined.com